Saturday, September 20, 2008

APA ITU HALLOWEN



Halloween ([hælə'win], [hælo'win]) adalah tradisi perayaan malam tanggal 31 Oktober di negara-negara berpenutur bahasa Inggris, dilakukan anak-anak berpakaian aneh yang berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga meminta permen atau coklat dengan berkata "Trick or treat!" Ucapan "Trick or treat!" merupakan semacam "ancaman" yang berarti "Beri kami (permen) atau kami jahili." Anak zaman sekarang biasanya tidak lagi menjahili rumah orang yang tidak memberi apa-apa. Sebagian anak-anak masih menjahili rumah orang yang dianggap pelit dengan cara "menghiasi" pohon yang ada di depan rumah dengan kertas toilet atau menulisi jendela dengan sabun.

Halloween biasanya identik dengan setan, tukang sihir, hantu Goblin dan makhluk-makhluk menyeramkan lain dari kebudayaan Barat. Halloween disambut dengan menghias rumah dan pusat perbelanjaan dengan simbol-simbol Halloween.

Halloween berasal dari kata Hallowe'en yang merupakan kependekan dari All Hallow's Eve (malam sebelum hari raya All Hallow)[1]. Hari raya agama Katolik bernama Hari Raya Semua Orang Kudus (All Saints Holy Day) yang dirayakan 1 November pernah dikenal sebagai All Hallows' Day yang merupakan penyingkatan dari All Hallowed Souls. Dalam bahasa Inggris, kata Hallowed (holy) berarti Orang Kudus.

Hari Raya Semua Orang Kudus ditentukan misionaris Kristen bertepatan dengan hari raya pagan dengan alasan ingin orang pagan mempercayai agama Kristen. Hari Para Arwah (Day of the Dead) yang merayakan kedatangan arwah sanak keluarga dan kerabat kembali ke bumi sampai sekarang masih diperingati di beberapa negara seperti di Brazil, Meksiko, dan Filipina.

Halloween berasal dari orang Celt di Irlandia, Britania dan Perancis sebagai tradisi paganisme perayaan musim panen. Di abad ke-19, orang Irlandia dan Skotlandia membawanya ke Amerika Utara.


Simbol Halloween

Simbol Halloween singkatnya adalah buah labu yang dilubangi menyerupai wajah yang mengerikan. Simbol Halloween lekat dengan keadaan musim gugur dan karakter-karakter komersial dan menyeramkan hasil rekaan pembuat film Amerika dan ahli desain grafis. Simbol Halloween biasanya dekat dengan kematian, keajaiban, dan monster-monster dari dunia mitos. Karakter yang sering dikaitkan dengan Halloween misalnya karakter setan dan iblis dalam kebudayaan Barat, manusia labu, makhluk angkasa luar, tukang sihir, kelelawar, burung hantu, burung gagak, burung bangkai, rumah hantu, kucing hitam, laba-laba, goblin, zombie, mumi, tengkorak, dan manusia serigala. Di Amerika Serikat, simbol Halloween biasanya dekat dengan tokoh dalam film klasik mulai dari Drakula dan monster Frankenstein.

Hitam dan oranye dianggap sebagai warna tradisional Halloween, walaupun sekarang banyak juga barang-barang Halloween yang berwarna ungu, hijau dan merah.

Labu yang merupakan hasil panen musim gugur di belahan bumi beriklim sejuk sering dijadikan simbol Halloween, begitu pula orang-orangan sawah sebagai penjaga hasil panen.

Simbol Halloween yang dimengerti secara universal adalah labu yang diukir membentuk wajah "menyeramkan" yang diberi nama Jack-o'-lantern. Agar kelihatan lebih seram, lentera Jack-o'-lantern biasanya diletakkan di tempat gelap, karena di dalam labu diletakkan lilin menyala atau lampu.

Di Amerika Serikat, lentera Jack-o'-lantern sering diletakkan di depan pintu masuk rumah sesudah hari mulai gelap. Tradisi membuat lentera Jack-o'-lantern berasal dari Amerika Utara yang banyak menghasilkan labu berukuran besar yang mudah diukir.

Makanan Halloween

Di belahan bumi beriklim sejuk, perayaan Halloween berlangsung di musim apel sehingga Candy Apple atau caramel apple (apel yang dicelup ke dalam cairan gula) terkenal sebagai makanan Halloween.

Selain itu, hidangan lain yang lekat dengan tradisi Halloween: pai labu, sari buah apel (minuman cider), candy corn, bonfire toffee, Toffee Apple, dan permen yang dibungkus dengan warna-warni Halloween (oranye, coklat, atau hitam).

Perayaan di Amerika Serikat

Bagi anak-anak di Amerika, Halloween berarti kesempatan memakai kostum Halloween dan mendapatkan permen, sedangkan bagi orang dewasa adalah kesempatan berpesta kostum. Bagi pedagang eceran di Amerika, Halloween berada di urutan kedua di bawah hari Natal sebagai perayaan yang paling yang menguntungkan.[2].

Sejarah topeng dan kostum Halloween sebelum tahun 1900 di Amerika atau di tempat lain masih sedikit yang diketahui karena keterbatasan sumber primer.[3] Kostum Halloween yang diproduksi massal belum terlihat di toko-toko hingga tahun 1950-an, walaupun topeng Halloween sudah ada lebih dulu.

Di tahun 2005, asosiasi produsen permen Amerika melaporkan 80% orang dewasa berencana membagi-bagikan permen kepada anak-anak yang datang,[4], sedangkan 93% anak-anak ingin berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga di malam Halloween.[5]

Kota Anoka di negara bagian Minnesota mengklaim diri sebagai "ibu kota Halloween" dan merayakannya dengan pawai besar-besaran. Kota Salem di Massachusetts yang terkenal dengan legenda tukang sihir dari Salem biasanya didatangi lebih banyak wisatawan menjelang perayaan Halloween.

Kota New York mengadakan pawai perayaan Halloween terbesar di Amerika Serikat yang disebut The Village Halloween Parade. Pawai yang dirintis pembuat topeng di Greenwich Village New York sekarang menarik perhatian 2 juta peserta dan pengunjung, sekaligus ditonton 4 juta pemirsa televisi.

Thursday, September 18, 2008

MENGENAL TEKNIK KONSTRUKSI SOSROBAHU


Teknik Sosrobahu merupakan teknik konstruksi yang digunakan terutama untuk memutar bahu lengan beton jalan layang dan ditemukan oleh Tjokorda Raka Sukawati. Dengan teknik ini, lengan jalan layang diletakkan sejajar dengan jalan di bawahnya, dan kemudian diputar 90° sehingga pembangunannya tidak mengganggu arus lalu lintas di jalanan di bawahnya.

Teknik ini dianggap sangat membantu dalam membuat jalan layang di kota-kota besar yang jelas memiliki kendala yakni terbatasnya ruang kota yang diberikan, terutama saat pengerjaan konstruksi serta kegiatan pembangunan infrastrukturnya tidak boleh mengganggu kegiatan masyarakat kota khususnya arus lalu-lintas dan kendaraan yang tidak mungkin dihentikan hanya karena alasan pembangunan jalan.

Latar belakang

Kemacetan lalu lintas pada sebuah jalan 'bebas hambatan'.
Kemacetan lalu lintas pada sebuah jalan 'bebas hambatan'.

Pada tahun 1980-an, Jakarta yang memang sudah mengalami kendala kemacetan lalu lintas, banyak membangun jalan layang sebagai salah satu solusi meningkatkan infrastruktur lalu-lintas. Sebagai kontraktor saat itu, PT. Hutama Karya mendapatkan order membangun jalan raya di atas jalan by pass A. Yani di mana pembangunannya harus memastikan bahwa jalan itu harus tetap berfungsi.

Dengan permasalahan tersebut, para direksi Hutama Karya berdiskusi setelah mendapatkan order membangun jalan layang antara Cawang sampai Tanjung Priok sekitar tahun 1987. Persoalan rumit diurai, yang diperlukan untuk menyangga badan jalan itu adalah deretan tiang beton, satu-sama lain berjarak 30 meter, di atasnya membentang tiang beton selebar 22 meter. Batang vertikalnya (pier shaft) berbentuk segi enam bergaris tengah 4 meter, berdiri di jalur hijau. Hal ini tidak sulit, yang merepotkon adalah mengecor lengannya (pier head). Jika dengan cara konvensional, yang dilakukan adalah memasang besi penyangga (bekesting) di bawah bentangan lengan itu, tetapi bekesting itu akan menyumbat jalan raya di bawahnya. Cara lain adalah dengan bekesting gantung tetapi membutuhkan biaya lebih mahal.

Di tengah masalah itu, Ir. Tjokorda Raka Sukawati mengajukan gagasan dengan membangun tiangnya dulu dan kemudian mengecor lengannya dalam posisi sejajar dengan jalur hijau, setelah itu diputar membentuk bahu. Hanya saja kendalanya adalah bagaimana cara memutarnya karena lengan itu nantinya seberat 480 ton.

Inspirasi dari dongkrak hidrolik mobil

Ketika Tjokorda memperbaiki kendaraannya, hidung mobil Mercedes buatan 1974-nya diangkat dengan dongkrak sehingga dua roda belakang bertumpu di lantai yang licin karena ceceran tumpahan oli secara tidak sengaja. Begitu mobil itu tersentuh, badan mobil berputar dengan sumbu batang dongkrak. Satu hal yang ia catat, dalam ilmu fisika dengan meniadakan gaya geseknya, benda seberat apa pun akan mudah digeser. Kejadian tadi memberikan inspirasi bahwa pompa hidrolik bisa dipakai untuk mengangkat benda berat dan bila bertumpu pada permukaan yang licin, benda tersebut mudah digeser. Bayangan Tjokorda adalah menggeser lengan beton seberat 480 ton itu.

Kemudian Tjokorda membuat percobaan dengan membuat silinder bergaris tengah 20 cm yang dibuat sebagai dongkrak hidrolik dan ditindih beban beton seberat 80 ton. Hasilnya bisa diangkat dan dapat berputar sedikit tetapi tidak bisa turun ketika dilepas. Ternyata dongkrak tersebut miring posisinya. Tjokorda kemudian menyempurnakannya. Posisinya ditentukan persis di titik berat lengan beton di atasnya.

Untuk membuat rancangan yang pas, dasar utama Hukum Pascal yang menyatakan: "Bila zat cair pada ruang tertutup diberikan tekanan, maka tekanan akan diteruskan segala arah". Zat cair yang digunakan adalah minyak oli (minyak pelumas). Bila tekanan P dimasukkan dalam ruang seluas A, maka akan menimbulkan gaya (F) sebesar P dikalikan A. Rumus itu digabungkan dengan beberapa parameter dan memberikan nama Rumus Sukawati, sesuai namanya. Rumus ini orisinil idenya karena sampai saat itu belum ada buku yang membahasnya sebab memang tidak ada kebutuhannya.

Masalah lain yang muncul ada variabelnya yang mempengaruhinya, di antaranya adalah jenis minyak yang digunakan yang tidak boleh rusak kekentalannya (viskositas). Urusan minyak menjadi hal yang krusial karena minyak inilah yang meneruskan tekanan untuk mengangkat beton yang berat itu.

1. Bangun tiang jalan.
1. Bangun tiang jalan.
2. Lengan beton jalan dibangun di antara dua jalur jalan, sejajar dengan jalanan yang padat di bawahnya.
2. Lengan beton jalan dibangun di antara dua jalur jalan, sejajar dengan jalanan yang padat di bawahnya.
3. Lengan beton jalan diputar 90 derajat. Jalan layang pun kemudian dibangun di atas lengan ini.
3. Lengan beton jalan diputar 90 derajat. Jalan layang pun kemudian dibangun di atas lengan ini.

Setelah semua selesai, Tjokorda mengerjakan rancangan finalnya yakni sebuah landasan putar untuk lengan beton yang dinamai Landasan Putar Bebas Hambatan (LBPH). Bentuknya dua piringan (cakram) besi bergaris tengah 80 cm yang saling menangkup. Meski tebalnya 5 cm, piring dari besi cor FCD-50 itu mampu menahan beban 625 ton.

Ke dalam ruang di antara kedua piringan itu dipompakan minyak oli. Sebuah seal (penutup) karet menyekat rongga di antara tepian piring besi itu untuk menjaga minyak tak terdorong keluar, meski dalam tekanan tinggi. Lewat pipa kecil, minyak dalam tangkupan piring itu dihubungkan dengan sebuah pompoa hidrolik. Sistem hidrolik itu mampu mengangkat beban beban ketika diberikan tekanan 78 kg/cm2. Angka ini sebenarnya angka misteri bagi Tjokorda saat itu.

Uji coba langsung di lapangan

Secara teknik penemuan itu belum diuji coba karena waktu yang terbatas, namun ia yakin temuannya itu bisa bekerja. Tjokorda bahkan berani bertanggungjawab bila lengan beton jalan layang itu tidak bisa berputar.

Pada tanggal 27 Juli 1988 pukul 10 malam waktu setempat (Jakarta), pompa hidrolik dioperasikan hingga titik tekan 78 kg/cm2. Lengan pier head itu, meskipun bekesting-nya telah dilepas, mengambang di atas atap pier shaft lalu dengan dorongan ringan sedikit saja, lengan beton raksasa itu berputar 90 derajat.

Ketika pier shaft itu sudah dalam posisi sempurna, secara perlahan minyak dipompa keluar dan lengan beton itumerapat ke tiangnya. Sistem LPBH itu dimatikan sehingga perlu alat berat untuk menggesernya. Namun demikian karena khawatir kontruksi itu bergeser, Tjokorda memancang delapan batang besi berdiameter 3,6 cm untuk memaku pier head ke pier shaft lewat lubang yang telah disiapkan. Kemudian satu demi satu alat LBPH itu diterapkan pada kontruksi beton lengan jembatan layang yang lain.

Penamaan Sosrobahu dan pemberian paten

Pada pemasangan ke-85, awal November 1989, Presiden Soeharto ikut menyaksikannya dan memberi nama teknologi itu Sosrobahu yang diambil dari nama tokoh cerita sisipan Mahabharata. Sejak itu LBPH tersebut dikenal sebagai Teknologi Sosrobahu.

Temuan Tjokorda digunakan insinyur Amerika Serikat dalam membangun jembatan di Seattle. Mereka bahkan patuh pada tekanan minyak 78 kg/cm2 yang menurut Tjokorda adalah misteri ketika menemukan alat LBPH Sosrobahu itu. Tjokorda kemudian membangun laboratorium sendiri dan melakukan penelitian dan hasilnya berupa perhitungan susulan dengan angka teknis tekanan 78,05 kg/cm2, nyaris persis sama dengan angka wangsit yang diperolehnya sebelum itu.

Hak paten yang diterima adalah dari pemerintah Jepang, Malaysia, Filipina. Dari Indonesia, Dirjen Hak Cipta Paten dan Merek mengeluarkan patennya pada tahun 1995 sedangkan Jepang memberinya pada tahun 1992. Saat ini teknologi Sosrobahu sudah diekspor ke Filipina, Malaysia, Thailand dan Singapura. Salah satu jalan layang terpanjang di Metro Manila, yakni ruas Vilamore-Bicutan adalah buah karya teknik ciptaan Tjokorda. Di Filipina teknologi Sosrobahu diterapkan untuk 298 tiang jalan. Sedangkan di Kuala Lumpur sebanyak 135. Saat teknologi Sosrobahu diterapkan di Filipina, Presiden Filipina Fidel Ramos berujar, "Inilah temuan Indonesia, sekaligus buah ciptaan putra ASEAN". Sementara Korea Selatan masih bersikeras ingin membeli hak patennya.

Teknologi Sosrobahu ini dikembangkan menjadi versi ke-2. Bila pada versi pertama memakai angker (jangkar) baja yang disusupkan ke beton, versi keduanya hanya memasang kupingan yang berlubang di tengah. Lebih sederhana dan bahkan hanya memerlukan waktu kurang lebih 45 menit dibandingkan dengan yang pertama membutuhkan waktu dua hari. Dalam hitungan eksak, konstruksi Sosrobahu akan bertahan hingga 100 tahun (1 abad).

Menurut Dr. Drajat Hoedajanto pakar strktur dari Institut Teknologi Bandung, Sosrobahu pada dasarnya hanya metode sangat sederhana untuk pelaksanaannya (memutar bahu lengan beton jalan layang). Sistem ini cocok dipakai pada elevated toll road (jalan tol layang dalam kota) yang biasanya mengalami kendala lalu lintas dibawahnya yang pada. Sosrobahu terbukti bermanfaat dalam proses pembangunan jalan layang, sangat aplikatif, teruji baik teknis dan ekonomis.

TAHUKAH ANDA???

WHAT WAS ON

TANGGAL 18 SEPTEMBER DI MASA LALU

Gambar:Wikimedia-logo-20px.png Proyek Wikimedia lain

DOA YANG DI HARAPKAN

YA ALLOH YA TUHAN, JANGAN ENGKAU JADIKAN AKU GOLONGAN ORANG-ORANG YANG CEPAT BERPUTUS ASA DALAM BERDOA DAN BERUSAHA. BERIKAN AKU YANG TERBAIK ATAS AKU YANG AKU PINTA KARENA HANYA ENGKAULAH YANG TERBAIK UNTUKKU. AMIN

KETIKA KESULITAN ITU HADIR

SETIAP ORANG INGIN DI CIPTAKAN DALAM KEADAAN PALING SEMPURNA. TAPI TUHAN LAH PENENTU SEMUANYA. KADANG KITA INGIN SESUAI DI HATI, TAPI TUHAN BERKEHENDAK LAIN. MANUSIA HANYA WAJIB BERDOA DAN BERUSAHA NAMUN TUHAN TAU YANG TERBAIK UNTUK UMATNYA. DAN TUHAN TIDAK MEMBIARKAN UMATNYA DALM KESENDIRIAN DAN KE PUTUS ASAAN SELAMA UMATNYA DEKAT DENGANNYA. POSTING INI AKU BUAT BERDASAR PENGALAMAN PRIBADI. DAN DOA HARAPANKU TERHADAP TUHAN YANG MAHA PEMBERI SEGALANYA

Wednesday, September 17, 2008

MALUKU, THE SONG OF THE SEA

Maluku Islands


Maluku Islands
Geography
Location South East Asia
Coordinates 3°9′S, 129°23′E
Total islands ~1000
Major islands Halmahera, Seram, Buru, Ambon, Ternate, Tidore, Aru Islands, Kai Islands
Area 74,505 km²
Highest point Binaiya (3,027 m)
Country
Flag of Indonesia Indonesia
Provinces Maluku, North Maluku
Demographics
Population 1,895,000(as of 2000)
Map by Willem Blaeu (1630)
Map by Willem Blaeu (1630)

The Maluku Islands (also known as the Moluccas, Moluccan Islands, the Spice Islands or simply Maluku) are an archipelago in Indonesia, and part of the larger Malay Archipelago. They are located on the Australian Plate, lying east of Sulawesi (Celebes), west of New Guinea, and north of Timor. The islands were also historically known as the "Spice Islands" by the Chinese and Europeans, but this term has also been applied to other islands.

Most of the islands are mountainous, some with active volcanoes, and enjoy a wet climate. The vegetation of the small and narrow islands, encompassed by the sea, is very luxuriant; including rainforests, sago, rice, and the famous spices--nutmeg, cloves and mace, among others. Though originally Melanesian, many island populations, especially in the Banda Islands, were killed in the 17th century. A second influx of Austronesian immigrants began in the early twentieth century under the Dutch and continued in the Indonesian era.

Politically, the Maluku Islands formed a single province from 1950 until 1999. In 1999 the North Maluku (Maluku Utara) and Halmahera Tengah (Central Halmahera) regency were split off as a separate province, so the islands are now divided between two provinces, Maluku and North Maluku. Between 1999 and 2002 they were known for religious conflicts between Muslims and Christians but have been peaceful in the past years.


Geography

The Maluku Islands are often described by tourist literature as having 999 islands; they are 90% sea with 77,990 km2 of land, and 776,500 km2 of sea.[1]

North Maluku Province

Maluku Province

Etymology

The name Maluku is thought to have been derived from the Arab trader's term for the region, Jazirat al-Muluk ('the land of many kings').[3]

History

1. Early history

The earliest archaeologicall evidence of human occupation of the region is about thirty-two thousand years old, but evidence of even older settlements in Australia may mean that Maluku had earlier visitors. Evidence of increasingly long-distance trading relationships and of more frequent occupation of many islands, begins about ten to fifteen thousand years later. Onyx beads and segments of silver plate used as currency on the Indian subcontinent around 200BC have been unearthed on some of the islands. In addition, local dialects employ derivations of the Malay word then in use for 'silver', in contrast to the term used in wider Melanesian society, which has etymological roots in Chinese, a consequence of the regional trade with China that developed in the 500s and 600s.

Maluku was a cosmopolitan society where spice traders from across the region took residence in settlements, or in nearby enclaves, including Arab and Chinese traders who visited or lived in the region.

2. The Portuguese

Apart from some relative inconsequential cultural influences, the most significant lasting effects of the Portuguese presence was the disruption and disorganisation of Asian trade, and in eastern Indonesia—including Maluku—the planting of Christianity.[4] The Portuguese had conquered Malacca in the early sixteenth century and their lasting influence was most strongly felt in Maluku and other parts of eastern Indonesia.[3] Following the Portuguese conquest of Malacca in August 1511, Afonso de Albuquerque learned the route to the Banda Islands and other 'Spice Islands', and sent an exploratory expedition of three vessels under the command of António de Abreu, Simão Afonso Bisigudo and Francisco Serrão.[5] On the way to return, Francisco Serrão was shipwrecked at Hitu island (northern Ambon) in 1512. There he established ties with the local ruler who was impressed with his martial skills. The rulers of the competing island states of Ternate and Tidore also sought Portuguese assistance and the Portuguese were welcomed in the area as buyers of food and spices during a lull in the spice trade due to a temporary disruption to Javanese and Malay sailings to the area following the 1511 conflicts in Malacca. The Asian trade soon revived and the Portuguese were never able to dominate the trade.[3]

Allying himself with Ternate, Serrão constructed a fortress on the island and served as the head of a mercenary band of Portuguese warriors under the service of one of two feuding powerful sultans who controlled the spice trade. Such an outpost far from Europe generally only attracted the most desperate and avaricious, such that the feeble attempts at Christianisation, strained relations with Ternate's Muslim ruler.[3] Serrão urged Ferdinand Magellan to join him in Maluku, and gave the explorer information about the Spice Islands. Both Serrão and Magellan, however, perished before they could meet one another.[3] In 1535 King Tabariji was deposed and sent to Goa by the Portuguese. He converted to Christianity and changed his name to Dom Manuel. After being declared innocent of the charges against him he was sent back to reassume his throne, but he died en route in Malacca in 1545. He had, however, bequeathed the island of Ambon to his Portuguese godfather Jordão de Freitas. Following the murder of Sultan Hairun at the hands of the Portuguese, the Ternateans expelled the Portuguese in 1575 after a five-year siege.

The Portuguese first landed in Ambon in 1513, but it became the new centre for Portuguese activities in Maluku following their expulsion from Ternate. European power in the region was weak and Ternate became an expanding, fiercely Islamic and anti-Portuguese state under the rule of Sultan Baab Ullah (r. 1570 - 1583) and his son Sultan Said.[6] The Portuguese in Ambon, however, were regularly attacked from native Muslims on the island's northern coast, in particular Hitu, which had trading and religious links with major port cities on Java's north coast. Indeed, the Portuguese never managed to control the local trade in spices, and failed in attempts to establish their authority over the Banda Islands, the nearby centre of nutmeg production.

Spaniards took control of Ternate and Tidore. Missionary and Catholic Saint, Francis Xavier worked in Maluku in 1546–1547 among the people's of Ambon, Ternate and Morotai (or Moro), and laid the foundations for a permanent mission there. Following his departure from Maluku, others carried on his work and by the 1560s there were 10,000 Catholics in the area, mostly on Ambon, and by the 1590s there were 50,000 to 60,000, although most of the region surrounding Ambon remained Muslim.[6]

Following Portuguese missionary work, there have been large Christian communities in eastern Indonesia through to contemporary times, which has contributed to a sense of shared interest with Europeans, particularly among the Ambonese.[6] Other influences include a large number of Indonesian words derived from Portuguese which alongside Malay was the lingua franca up until the early nineteenth century. Contemporary Indonesian words such as pesta ('party'), sabun ('soap'), bendera ('flag'), meja ('table'), Minggu ('Sunday'), all derive from Portuguese. Many family names in Maluku are derived from Portuguese including De lima, Waas, da Costa, Dias, de Fretas, Gonsalves, Mendosa, Rodrigues, and da Silva. Also of part-Portuguese origin is the romantic keroncong ballads sung to a guitar.

[edit] The Dutch

The Dutch arrived in 1599 and reported native discontent with Portuguese attempts to monopolise their traditional trade. After the Ambonese helped the Dutch to construct a fort at Hitu Larna, the Portuguese begun a campaign of retribution against which the Ambonese invited Dutch aid. After 1605 Frederik Houtman became the first Dutch governor of Ambon.

The Dutch East India Company was a company with three obstacles in its way: the Portuguese, controlling the aboriginal populations, and the British. Again smuggling would be the only alternative to a European monopoly. Among other events of the 17th century, the Bandanese attempted independent trade with the British, the East-India Company's response was to decimate the native population of the Banda Islands sending the survivors fleeing to other islands and installing slave labour.

Though other races re-settled the Banda Islands, the rest of Maluku remained uneasy under foreign control and even after the Portuguese had a new trading station at Macassar there were native revolts in 1636 and 1646. Under company control northern Maluka was administered by the Dutch residency of Ternate, and the southern by "Amboyna" (Ambon).

During the Japanese occupation in World War II, the Moluccans fled to the mountains but began a campaign of resistance also known as the South Moluccan Brigade. After the war's end the island's political leaders had successful discussions with the Netherlands about independence. Complicated by Indonesian demands, the Round Table Conference Agreements were signed in 1949 transferring Maluku to Indonesia with mechanisms for the islands to choose or opt out of the new Indonesia. The Agreements granted Moluccans the right to determine their ultimate sovereignty.

[edit] Since Indonesian independence

With the declaration of a single republic of Indonesia in 1950 to replace the federal state, the South Moluccas (Republik Maluku Selatan, RMS) attempted to secede. This movement was led by Chris Soumokil (former Supreme Prosecutor of the Eastern Indonesia state) and supported by the Moluccan members of the Netherlands special troops. This movement was defeated by the Indonesian army after 17 years of bloody struggle and by special agreement with the Netherlands the troops were transferred to the Netherlands. The commencement of Indonesian transmigration of (mainly) Javanese populations to the outer islands (including Maluku) during the 1960s is thought to have aggravated independence and issues of religious / ethnic politics. There has been occasional ethnic and nationalist violence on the islands.

Maluku is one of the first provinces of Indonesia, proclaimed in 1945 until 1999, when the Maluku Utara and Halmahera Tengah Regencies were split off as a separate province of North Maluku. Its capital is Ternate, on a small island to the west of the large island of Halmahera. The capital of the remaining part of Maluku province remains at Ambon.

The situation in much of Maluku became highly unpredictable when religious-nuance conflict erupted in the province in January 1999. The subsequent 18 months were characterized by fighting between largely local groups of Muslims and Christians, the destruction of thousands of houses, the displacement of approximately 500,000 people, the loss of thousands of lives, and the segregation of Muslims and Christians.[7] The following 12 months saw periodic eruptions of violence, which appeared more targeted and premeditated, which helped keep suspicions high and people segregated (although these experiences were generally the norm). In spite of numerous negotiations and the signing of a peace agreement in February 2002, tensions on Ambon remained high until late 2002, when an increasingly stable peace led to a series of spontaneous 'mixings' between previously hostile groups.

Geology and ecology

The geology and ecology of the Maluku Islands shares much similar history, characteristics and processes with the neighbouring Nusa Tenggara region. There is a long history of geological study of these regions since Indonesian colonial times, however, the geological formation and progression is not fully understood, and theories of the island's geological evolution have changed extensively in recent decades.[8] The Maluku Islands comprise some of the most geologically complex and active regions in the world,[9] resulting from its position at the meeting point of four geological plates and two continental blocks.

The Maluku islands lies in Wallacea, the region between the Sunda Shelf (part of the Asia block), and the Arafura Shelf (part of the Australian block). Wallacea also encompasses Nusa Tenggara and Sulawesi, and within this region of small islands lies some of the world's deepest seas.[10] Malukan biodiversity and its distribution is affected by various tectonic activities; most of the islands are geologically young being from 1 million to 15 million years old, and have never been attached to the larger landmasses. The Maluku islands differ from other areas in Indonesia; it contains some of the countries smallest islands, coral island reefs scattered through some of the deepest seas in the world, and no large islands such as Java or Sumatra. Flora and fauna immigration between islands is thus restricted, leading to a high rate of endemic biota evolving.[11]

The ecology of the Maluku Islands has fascinated collectors for centuries; Alfred Wallace's famous book, The Malay Archipelago was the first significant recording of this natural history, and remains one of the most important sources on Indonesian natural history. Maluku is the source of two major historical works of natural history; George Everhard Rumpf wrote the Herbarium Amboinense and the Ambonische Rariatenkamer.[12]

While many ecological problems affect both small islands and large landmasses, small islands suffer their particular problems. Development pressures on small islands are increasing, although their effects are not always anticipated. Although Indonesia is richly endowed with natural resources, the resources of the small islands of Maluku are limited and specialised; furthermore human resources in particular are limited.[13]

General observations[14] about small islands that can be applied to the Maluku Islands include:[15]

  • a higher proportion of the landmass will be affected by volcanic activity, earthquakes, landslips, and cyclone damage;
  • Climates are more likely to be maritime influenced;
  • Catchment areas are smaller and degree of erosion higher;
  • A higher proportion of the landmass is made up of coastal areas;
  • A higher degree of environmental specialisation, including a higher proportion of endemic species in an overall depauperate community;
  • Societies may retain a strong sense of culture having developed in relative isolation;
  • Small island populations are more likely to be affected by economic migration.